Welcome to my blog..... Thank's to visit...! Jangan lupa? follow me please...

Rabu, 12 Januari 2011

DAMPAK TINGKAH LAKU SOSIAL

Tingkah laku sosial berhubungan dengan tingkah laku kehidupan sehari-hari. Dimana dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat tingkah laku kehidupan setiap lapisan masyarakat. Dimana tingkah laku tersebut ada yang positif dan juga negatif. Dimana dari tingkah laku tersebut terdapat dampak-damapak yang baik maupun yang buruk.
Adapun tingkah laku positif antara lain. Membuat atau membaentuk organisasi yang menguntungkan bagi setiap lapisan masyarakat. Seperti organisasi karang taruna, yang membantu masyarakat membereskan pekerjaan di sebuah desa. Yang berdampak positif, yaitu desa yang mereka tempati namanya menjadi baik. Nama mereka yang ikut oganisasi menjadi terkenal oleh masyarakat.
Selain sifat positif, tidak sedikit masyarakat kita melakukan tingkah laku yang negatif. Yaitu tingkah laku yang merugikan msyarakat sekitar. Diantaranya membentuk geng motor yang sangat menggangu ketenangan masyarakat. Selain itu juga mengganggu ketertiban lalulintas. Akibatnya banyak terjadinya kriminalitas, dan banyaknya kecelakaan.
Untuk mengatasinya diri kita sendiri harus sadar mana perbuatan positif dengan negative. Dan dapat membedakan pula dampak sosial yang akan terjadi nanti. Bantuan pemerintah juga dapat mendukung untuk menertibkan masalah ini.

TAMAN KOTA

Pada dasarnya dalam satu hari setiap manusia membutuhkan ½ kilogram Oksigen dan sebuah pohon menghasilkan 1 Kg Oksigen. Artinya dalam satu hari dua orang manusia membutuhkan satu pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigennya.

Kepadatan penduduk di kota-kota besar Indonesia sejalan dengan padatnya hunian dari rumah berkategori menengah kebawah sampai perumahan elite, belum ditambah dengan perkantoran, pusat pembelajaan sampai pabrik-parbrik yang menjadi ciri khas kota besar di Indonesia yang memiliki daya tarik secara ekonomi yang membuat orang berduyun-duyun hijrah dari daerah perkampungan untuk mencari peruntungan.

Padatnya bangunan ”memakan” korban bernama RTH (ruang terbuka hijau), termasuk taman kota di dalamnya, hal ini bisa dilihat misalnya di kota Bandung yang notabene sempat dijuluki sebagai kota taman sejak era kolonial. Saat ini luas taman di Bandung sesuai data yang ada pada Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung seluas 723.424,67 M2 yang terbagi kedalam 252 taman, data ini belum ditambah jalur hijau lainnya seperti pemisah jalan atau jalur pepohonan di trotoar. Secara keseluruhan, terjadi penurunan luas taman sejak pertama kali mulai dibangun pada era kolonial 1917, yang di barengi dengan dibentuknya Bandoengsche Committee Tot Natuurbescherming atau Komite Bagi Perlindungan Alam Bandung (Kunto, 1986). Pengurangan luas RTH ini merupakan effek dari pembangunan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.

Dari Fungsi Ekologis, Estetis sampai Fungsi Sosial

Taman kota yang menjadi salah satu alasan Bandung sempat mendapat julukan Varis van Java merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat kota. Seperti layaknya paru-paru dalam tubuh kita, taman kota memiliki fungsi yang signifikan. Secara umum, taman kota memiliki tiga fungsi yang satu sama lain mempunyai keterkaitan, diantaranya fungsi ekologis, estetika dan fungsi sosial.

Fungsi ekologis, memosisikan taman kota sebagai penyerap dari berbagai polusi yang diakibatkan oleh aktivistas penduduk, seperti meredam kebisingan maupun yang paling significant adalah menyerap kelebihan CO2, untuk kemudian dikembalikan menjadi oksigen (O2).

Selain menghasilkan oksigen, pohon juga berperan besar dalam menetralisir udara, dimana secara fisiologis tumbuhan memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam berat seperti Cu (Tembaga), Zn (Seng), Cd (Cadmium), Pb (Timbal/timah hitam), dan Mn (mangan), yang digunakan sebagai katalisator reaksi metabolisme dan berperan pada pembentukan organ tumbuhan. (www.ecoton.or.id)

Dalam fungsi ekologis ini pula, taman kota menjadi tempat untuk melestarikan berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Pelestarian ini, selain untuk mempertahankan jenis-jenis tumbuhan dan hewan dari kepunahan, juga untuk menyeimbangkan kehidupan itu sendiri, mengingat tumbuhan, hewan dan juga manusia mempunyai keterkaiatan satu sama lain untuk menjalankan hidupnya, dengan fungsinya masing-masing yang saling mendukung bila dijalankan dengan benar.

Fungsi yang kedua adalah fungsi estetis, dimana taman kota dapat mempercantik estetika sebuah kota. Apalagi dengan mempertahankan keasliannya.

Pada kenyataannya dewasa ini, banyak taman kota yang sudah direkayasa sedemikian rupa dengan alasan estetis. Seperti taman-taman yang ada di perempatan atau persimpangan jalan yang tidak begitu luas namun jumlahnya cukup banyak. Taman-taman jenis ini, seperti yang dikatakan Direktur Eksekutif Yayasan Pengembang Biosains dan Bioteknologi (YPBB) David Sutasurya, secara fungsi ekologis tidak begitu berarti. Menurutnya, fungsi estetis itu akan terlahir dengan sendirinya jika taman yang ada tetap mempertahankan keasliannya. Karena pada dasarnya keindahan tersebut akan hadir dengan sendiri, mengingat tanaman memiliki nilai seni yang tidak ternilai terhitung dari proses pertumbuhannya sampai daun-daunnya yang berguguran.

Fungsi yang terakhir adalah fungsi sosial, dimana taman kota menjadi tempat bagi berbagai macam aktivitas sosial seperti berolahraga, rekreasi, diskusi dan lain-lain. Fungsi ini pada dasarnya menjadi kebutuhan warga kota sendiri yang secara naluri membutuhkan ruang terbuka untuk bersosialisasi sekaligus menyerap energi alam.

Menurut dosen Planalogi Universitas Islam Bandung Sri Hidayati, idealnya taman harus ada dalam Skala 100 meter dan secara rasio setiap 100 penduduk pada dasarnya membutuhkan sebuah taman. Kebutuhan ini harus dipenuhi dari tingat RT, RW, desa, kecamatan sampai kota dengan jenis berbeda secara fungsi sosial. Taman ditingkat RT atau RW misalnya, dapat menjadi tempat untuk bersantai warga. Lalu taman ditingkat desa atau kecamatan bisa menjadi tempat berolahraga dan taman ditingkat kota bisa menjadi sarana rekreasi dan pusat sosialisasi warga kota seperti halnya taman alun-alun kota.

Kota yang Baik, Taman yang Ideal dan Warga yang Sehat

Sebuah kota yang baik harus menyediakan sekitar 20 % untuk RTH dari luas kota tersebut. Angka 20 % ini adalah sesuai dengan keputusan Mendagri. Sedangkan di kebanyakan negara Eropa sudah menetapkan bahwa setiap kota harus menyediakan lahan sebanyak 40 % untuk dijadikan taman. Dan seperti yang dibahas diatas, idealnya harus disediakan sebuah taman untuk setiap 100 orang penduduk dengan hitungan minimalnya setiap taman tersebut memiliki 50 pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Lalu, dilingkar luar kota harus merupakan lahan hijau supaya mencerminkan kesan yang bersahabat dan pembawaan yang sejuk dan damai ketika orang memasuki kota. Ketika taman telah dilestarikan sesuai dengan keasliannya, maka ketiga fungsi yang telah disebutkan sebelumnya akan terbangun dengan sendirinya dan menjadi taman yang ideal.

Taman yang ideal adalah taman yang memenuhi ketiga fungsi pokoknya, yakni fungsi ekologis, estetis dan sosial. Dan ketiga fungsi itu saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Yang pasti dimana taman tersebut dilestarikan sesuai dengan keasliannya, maka ketiga fungsi itu akan terbangun dengan sendirinya.

Membangun kota yang memerhatikan lingkungan memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Nyatanya banyak faktor yang bisa menghambat yang pada pangkalnya disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri. Dalam hal ini Sri Hidayati menjelaskan tiga hal. Pertama, tidak tegasnya pemerintah dalam mengatur pembangunan yang tidak bersahabat dengan lingkungan. Kedua adalah faktor kemiskinan, dimana menimbulkan perilaku yang menyebabkan banyak taman ataupun RTH lainnya terganggu, misalnya digunakan sebagai hunian orang miskin. Faktor yang terakhir adalah rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Ketiga faktor itu harus menjadi fokus yang harus ditangani secara serius untuk kemudian menjadi solusi dalam melindungi dan melestarikan taman kota beserta RTH lainnya. Hal terdekat yang bisa dilakukan tiap individu adalah mulai menyadari bahwa taman di sebua kota memiliki peranan yang tidak bisa disepelekan. Nyatanya aspek estetis bukanlah satu-satunya fungsi dari sebuah taman.

Jika dikembalikan pada kebutuhan, apakah kita lebih memilih keindahan atau kesehatan? Melihat keindahan versi manusia dengan tubuh yang sakit atau melihat keindahan alam yang murni dengan tubuh yang sehat? Karena keindahan alam pada dasarnya tidak harus direkayasa, dengan sendirinya jika kita jaga dan lestarikan alam itu akan menawarkan keindahannya.

http://deniborin.multiply.com/reviews/item/18

KEMACETAN DI JAKARTA



            Kota Jakarta padat dengan perkantoran, pusat perbelanjaan, dan pemukiman. Dimana masyarakat untuk menempuh ke tempat – tempat tersebut sangat membutuhkan transportasi. Kebanyakan dari mereka yang menggunakan transportasi yaitu menggunakan kendaraau pribadi, dibandingkan kendaraan umum. Namun ada juga yang menggunakan kendaraan umum untuk menempuh tempat – tempat tersebut.
            Banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi disebabkan oleh murahnya penjualan kendaraan bermotor di Indonesia. Ada pula penyebab banyaknya pengguna kendaraan pribadi di Indonesia dikarenakan penjualan yang dapat dibayar dengan system credit(cicil). Terutama kendaraan roda dua. Banyak sekali masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua.
            Kendaraan roda dua banyak diminati karena mudahnya untuk mendapatkan kendaraan tersebut. Hanya dengan uang Rp500.000,00 mereka dapat memilikinya. Oleh karena itu kota penuh dengan kendaraan, sedangkan jalan yang ada di kota ini tidak seimbang volume kendaraan yang ada.
            Dari sebab itulah kota Jakarta benyak terjadi kemacetan. Terutama dipusat perbelanjaan. Tetapi ada waktu tertentu terjadinya kemacetan. Yaitu pada saat masuk jam kerja dan keluar jam kerja.
            Ada pula penyebab lain yang menyebabkan kemacetan. Kerena kurangnya kesadaran masyarakat untuk mematuhi peraturan lalu lintas. Banyaknya kendaraan pribadi yang melanggar peraturan lalu lintas. Bukan hanya kendaraan pribadi saja yang melanggar, kendaraan umum pun banyak yang melanggar peraturan. Seperti berhenti tidak pada tempatnya. Dari hal – hal tersebutlah kota Jakarta menjadi macet.
            Untuk menghindari macet sebaiknya kita semua harus sadar akan pentingnya peraturan lalu lintas. Kita harus mematuhi peraturan rambu – rambu lalu lintas. Dan jangan terlalu sering menggunakan kendaraan pribadi. Kemudian satu hal yang tidak terlupakan, yaitu memperbanyak jalan – jalan di kota Jakarta.  

DAMPAK KEPADATAN PENDUDUK



            Kota Jakarta adalah kota yang aktif dengan segala aktifitas, dimana semua jenis pekerjaan ada di kota Jakarta. Akan tetapi diluar banyaknya aktifitas pekerjaan Jakarta juga di padati oleh pemukiman penduduk. Penyebab banayaknya pemukiman penduduk di Jakarta adalah kerena adanya urbanisasi yang besar. Mereka yang berubanisasi mengira Jakarta adalah pusat dimana adanya lapangan pekerjaan. D engan mereka berfikir demikian, mereka tidak menyadari bahwa Jakarta itu sudah sangat padat.
            Dengan semakin banyaknya penduduk di Jakarta,maka pemukiman pun ikut bertambah. Daru situlah Jakarta semakin padat. Sehingga di pinggiran rel kereta api dan di bantaran kali pun dijadikan tempat memukiman. Seharusnya tempat – tempat tersebut tidak boleh dijadikan pemukiman. Tetap apa daya mereka sudah tidak ada lahan untuk membuat tempat tinggal yang layak dan resmi. Disampin faktor tempat merka juga terbentur di faktor biaya yang minim.
            Dengan padatnya penduduk akan menyebabkan penyempitan kota. Kota pun menjadi padat, banyak terdapat kemacetan. Tata ruang kota pun menjadi berantakan. Pemerintah pun akan mendapa kesulitan untuk mengatur kota tersebut.
            Padatnya penduduk akan menyebabkan pergesekan social,karena adanya masalah antar tetangga. Misalnya kecemburuan sosial yang terjadi. Sanitasi yang buruk diakibatkan  banyaknya limbah yang ada di pemukiman tersebut. Adanya banjir karena sanitasi yang buruk, sepert got mampet. Dari situ akan menimbulkan banyak penyakit. Sebaiknya pemerintah dapat memisahkan tempat, dimana tempat untuk lapangan pekerjaan dan di mana tempat untuk pemukiman.
     

EMISI EURO 3



            Tahun 2012 pemerintah akan menekan masyarakat agar menggunakan kendaraan yang mempunyai teknologi injeksi, yaitu teknologi yang memepunyai kadar gas buang rendah. Untuk itu pemerintah akan menghilangkan kendaraan yang menggunakan karbuarator. Karena kendaraan yang nenggunakan karburator mempunyai gas bauang yang tinggi. Pemerintah memperlakukan hal seperti ini karena pemerintah ingin mengikuti standar internasional, yang minimal emisi kendaraannya yaitu euro3.
            Untuk itu pemerintah berharap agar masyarakat sadar akan hal itu. Karena pemerintah sadar bahwa dengan dilakukan hal tersebut kita dapat mengurangi pemanasan global. Tetapi untuk melakukan hal tersebut tidaklah mudah.
            Karena masyarakat sudah banyak menggunakan kendaraan yang berteknologi karburator. Kesulitan lainnya adalah banyaknya benkel yang sudah sangat mengerti karburator. Terutama sulitnya mengganti kendaraan roda dua.
            Banyaknya kendaraan roda dua di Indonesia makin menyulitkan pemerintah untuk mengatasi hal ini. Apalagi dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaraan roda dua. Karena itu pemerintah berharap agar masyarakat sadar dengan hal ini.